Mengenal lebih dekat ladang dakwah dan titik-titik pembinaan umat Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di wilayah Kabupaten Morowali Utara.
Warga Ngoyo hidup dalam kesederhanaan dari bertani dan mencari hasil hutan. Semangat gotong royong sangat kental; mereka adalah pribadi pekerja keras yang menyambut setiap tamu dengan senyuman tulus.
Anak-anak di sini punya semangat menyala untuk mengaji. Tantangan terbesarnya adalah kekurangan sosok guru menetap untuk memberikan pemahaman tauhid dasar dan pendidikan akhlak.
Tanah yang subur sangat potensial untuk pertanian dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti rotan atau damar, yang bisa menjadi penggerak ekonomi warga.
Mendambakan akses jalan yang lebih baik dan berdirinya tempat belajar yang layak, serta hadirnya ustaz pembimbing agar lahir generasi cerdas penghafal Al-Qur'an.
Umumnya bekerja sebagai petani dan pekerja lepas. Hidup rukun, sangat terbuka dengan hal baik, dan suka berkumpul bertukar cerita setelah lelah bekerja.
Menjadi rumah banyak mualaf. Meski baru terbata-bata belajar gerakan sholat, semangatnya tak pernah surut. Mereka butuh alat ibadah dan bimbingan praktis rutin.
Solidaritas dan ikatan persaudaraan warga sangat kuat, menjadi modal berharga untuk membangun Kelompok Usaha Bersama (KUB) binaan yayasan ke depannya.
Mimpi terbesar mereka adalah memiliki surau nyaman sebagai pusat belajar, serta pendamping yang sabar menuntun mereka menjadi muslim yang kaffah.
Warganya majemuk (pedagang, petani, pegawai) dengan tingkat pendidikan yang beragam. Kebiasaan berkumpul di balai desa menjaga interaksi sosial yang kuat.
Dipersiapkan sebagai desa percontohan. Majelis orang tua aktif, namun tantangannya adalah menarik minat remaja agar terhindar dari dampak negatif pergaulan modern.
Potensi ekonomi dari perdagangan sangat kuat. Banyak pemuda cerdas yang berpotensi menjadi kader penggerak kemajuan dakwah dan desa.
Berharap Marisa menjadi mercusuar peradaban Islam wilayah setempat, dengan remaja masjid yang aktif dan ekonomi umat yang bangkit.
Tangguh, lugas, dan mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Meski bicaranya keras karena terbiasa melawan angin laut, hati mereka sangat hangat dan dermawan.
Waktu ibadah terkadang terlewat karena berada di laut. Da'i dituntut fleksibel menyelinap di waktu luang mereka, serta sangat butuh TPA untuk anak-anak pesisir.
Kekayaan air melimpah; tangkapan ikan dan budidaya pesisir. Jika dikelola baik, potensi wisata air juga bisa mengangkat taraf hidup masyarakat secara drastis.
Bermimpi anak pesisir mendapat pendidikan agama yang layak, serta pendampingan ekonomi agar nilai jual hasil laut meningkat menyejahterakan keluarga.
Mayoritas pekebun tangguh. Tidur lebih awal untuk kebun di pagi buta. Sangat memuliakan tamu yang mau menempuh perjalanan jauh mendaki ke desa mereka.
Rasa haus spiritual sangat dalam. Sulitnya medan membuat jarang ada penceramah naik. Sekali ada, ruangan akan penuh sesak, walau seringkali kajian terputus ketiadaan da'i.
Lumbung perkebunan berkualitas tinggi (kopi, cengkeh, kakao). Potensi agro-edukasi sangat terbuka untuk mendongkrak kesejahteraan warga dataran tinggi.
Berdoa agar ada da'i yang bersedia menemani mereka mengaji menembus dinginnya udara, serta perbaikan infrastruktur jalan agar hasil kebun mudah dijual.
*Galeri dokumentasi perjalanan dan kondisi daerah binaan Dewan Dakwah Morut.