Mengenal lebih dekat ladang dakwah dan titik-titik pembinaan umat Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di wilayah Kabupaten Morowali Utara.
Mayoritas masyarakat hidup dengan kondisi ekonomi sederhana dan menggantungkan kehidupan pada hasil hutan, berkebun, serta pertanian tradisional. Infrastruktur dasar masih terbatas, termasuk akses listrik, pendidikan, dan layanan umum. Hingga beberapa tahun terakhir, sebagian wilayah bahkan belum menikmati listrik sehingga penerangan malam sangat minim. Program pemasangan panel surya kemudian membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Selain itu, akses menuju dusun masih cukup menantang karena harus melewati jalur pedalaman, sungai, dan perbukitan. Kondisi ini membuat distribusi pendidikan, kesehatan, dan pembinaan masyarakat memerlukan perjuangan yang tidak ringan.
Dusun Ngoyo dikenal sebagai salah satu kampung mualaf binaan dakwah di Morowali Utara. Dakwah di wilayah ini telah berlangsung selama bertahun-tahun melalui para dai pedalaman. Banyak warga Suku Tau Taa Wana yang memeluk Islam setelah mendapatkan pendampingan intensif dari para dai. Setelah bersyahadat, mereka terus dibina melalui pengajian, pendidikan dasar Islam, pembelajaran Al-Qur'an, praktik ibadah, serta penguatan akidah.
Masyarakat mualaf di Ngoyo masih membutuhkan pembinaan berkelanjutan karena proses mengenal dan memahami Islam merupakan perjalanan panjang. Kehadiran dai tidak hanya sebagai pengajar agama, tetapi juga pendamping sosial yang membantu masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Meski berada di pedalaman, Dusun Ngoyo memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, antara lain:
Pertanian dan perkebunan tradisional.
Hasil hutan non-kayu.
Peternakan skala rumah tangga.
Kekayaan budaya dan kearifan lokal Suku Tau Taa Wana.
Potensi wisata edukasi dan budaya pedalaman.
Generasi muda yang memiliki semangat belajar dan mengaji yang tinggi.
Anak-anak di Ngoyo menunjukkan antusiasme besar terhadap pendidikan dan pembelajaran agama, bahkan harus menempuh perjalanan yang cukup berat untuk bersekolah maupun mengikuti kegiatan keagamaan.
Masyarakat Dusun Ngoyo memiliki harapan besar terhadap peningkatan kualitas hidup di wilayah mereka. Mereka mendambakan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak, kehadiran dai dan guru yang dapat menetap untuk mendampingi masyarakat secara berkelanjutan, serta tersedianya rumah layak huni bagi keluarga yang membutuhkan. Selain itu, masyarakat juga berharap adanya akses listrik, komunikasi, dan layanan kesehatan yang lebih memadai guna menunjang aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Di bidang ekonomi dan keagamaan, masyarakat berharap adanya program pemberdayaan yang dapat memperkuat kemandirian ekonomi keluarga serta membuka peluang usaha yang berkelanjutan. Sebagai salah satu wilayah binaan mualaf, Dusun Ngoyo juga sangat membutuhkan pembinaan keislaman yang terus-menerus agar pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dapat semakin berkembang di tengah masyarakat. Harapan-harapan tersebut menjadi bagian dari cita-cita bersama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera di pedalaman Ngoyo.
Umumnya bekerja sebagai petani dan pekerja lepas. Hidup rukun, sangat terbuka dengan hal baik, dan suka berkumpul bertukar cerita setelah lelah bekerja.
Menjadi rumah banyak mualaf. Meski baru terbata-bata belajar gerakan sholat, semangatnya tak pernah surut. Mereka butuh alat ibadah dan bimbingan praktis rutin.
Solidaritas dan ikatan persaudaraan warga sangat kuat, menjadi modal berharga untuk membangun Kelompok Usaha Bersama (KUB) binaan yayasan ke depannya.
Mimpi terbesar mereka adalah memiliki surau nyaman sebagai pusat belajar, serta pendamping yang sabar menuntun mereka menjadi muslim yang kaffah.
Warganya majemuk (pedagang, petani, pegawai) dengan tingkat pendidikan yang beragam. Kebiasaan berkumpul di balai desa menjaga interaksi sosial yang kuat.
Dipersiapkan sebagai desa percontohan. Majelis orang tua aktif, namun tantangannya adalah menarik minat remaja agar terhindar dari dampak negatif pergaulan modern.
Potensi ekonomi dari perdagangan sangat kuat. Banyak pemuda cerdas yang berpotensi menjadi kader penggerak kemajuan dakwah dan desa.
Berharap Marisa menjadi mercusuar peradaban Islam wilayah setempat, dengan remaja masjid yang aktif dan ekonomi umat yang bangkit.
Tangguh, lugas, dan mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Meski bicaranya keras karena terbiasa melawan angin laut, hati mereka sangat hangat dan dermawan.
Waktu ibadah terkadang terlewat karena berada di laut. Da'i dituntut fleksibel menyelinap di waktu luang mereka, serta sangat butuh TPA untuk anak-anak pesisir.
Kekayaan air melimpah; tangkapan ikan dan budidaya pesisir. Jika dikelola baik, potensi wisata air juga bisa mengangkat taraf hidup masyarakat secara drastis.
Bermimpi anak pesisir mendapat pendidikan agama yang layak, serta pendampingan ekonomi agar nilai jual hasil laut meningkat menyejahterakan keluarga.
Mayoritas pekebun tangguh. Tidur lebih awal untuk kebun di pagi buta. Sangat memuliakan tamu yang mau menempuh perjalanan jauh mendaki ke desa mereka.
Rasa haus spiritual sangat dalam. Sulitnya medan membuat jarang ada penceramah naik. Sekali ada, ruangan akan penuh sesak, walau seringkali kajian terputus ketiadaan da'i.
Lumbung perkebunan berkualitas tinggi (kopi, cengkeh, kakao). Potensi agro-edukasi sangat terbuka untuk mendongkrak kesejahteraan warga dataran tinggi.
Berdoa agar ada da'i yang bersedia menemani mereka mengaji menembus dinginnya udara, serta perbaikan infrastruktur jalan agar hasil kebun mudah dijual.
*Galeri dokumentasi perjalanan dan kondisi daerah binaan Dewan Dakwah Morut.